Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA) akan segera diberlakukan pada Desember mendatang. Dengan
MEA akan diarahkan kepada pembentukan sebuah integrasi ekonomi kawasan dengan
mengurangi biaya transaksi perdagangan, memperbaiki fasilitas perdagangan dan
bisnis serta meningkatkan daya saing sektor UMKM. Pemberlakuan MEA bertujuan
untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang stabil, makmur, berdaya
saing tinggi, dan secara ekonomi terintegrasi dengan regulasi efektif untuk
perdagangan dan investasi yang didalamnya terdapat arus bebas lalu lintas
barang jasa, investasi modal serta difasilitasinya kebebasan pergerakan pelaku
usaha dan tenaga kerja.
Untuk
dapat memainkan peranan dalam MEA, diperlukan persiapan yang matang dengan
memperhatikan peluang yang dimiliki dan tantangan yang dihadapi serta langkah
strategis yang harus disiapkan. Pertanyaannya sudah siapkah Indonesia
menghadapi MEA ?. Pengamat sosial Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat
Prof Nursyiwan Effendi mengingatkan dalam menghadapi masyarakat ekonomi Asean
(MEA) jangan sampai mengabaikan kesiapan modal sosial. Lebih lanjut dikatakan
bahwa kita sering berpikir terlalu umum, saat membahas MEA yang disinggung
selalu soal ekonomi padahal persiapan modal sosial juga penting (Sumber : Antara
News).
Pencapaian
pembangunan Indonesia masih jauh dari memuaskan. Pemerintah silih berganti
tetapi Indonesia seperti jalan di tempat. Pengangguran terus bertambah.
Kemiskinan semakin sulit dikendalikan. Kriminalitas terus meningkat, konflik
sosial terjadi dimana-mana. Industri dalam negeri semakin sulit bersaing.
Apabila tidak diwaspadai mulai sekarang, bangsa Indonesia tidak saja jadi
serambi belakang bangsa Asia, tetapi lebih jauh menjdai tontonan tentang sebuah
bangsa yang terus menerus perlu dikasihani.